Mata juling pada anak bukan sekedar masalah estetika saja namun juga turut memengaruhi perkembangan Kesehatan mata Si Kecil.
Mata juling atau disebut juga strabismus, merupakan kondisi dimana kedua bola mata tidak sejajar atau melihat ke arah yang berbeda. Ketika satu mata melihat pada satu objek, namun mata lain menyimpang dengan pergeseran (deviasi) yang dapat mengarah ke dalam, ke luar, ke atas, atau ke bawah.
Ada empat kondisi strabismus, yaitu Esotropia (mata juling ke dalam), Exotropia (mata juling ke luar), Hipotropia (mata juling ke bawah), dan Hipertropia (mata juling ke atas).
Risiko Strabismus pada Anak
Kondisi ini tentu sangat memengaruhi kualitas hidup anak. Selain memengaruhi fungsi penglihatan, strabismus juga dapat berdampak secara psikososial. Pada anak, kondisi ini dapat menurunkan rasa percaya diri dan meningkatkan risiko perundungan, sedangkan pada orang dewasa dapat memengaruhi interaksi sosial, kepercayaan diri, serta peluang dalam lingkungan profesional.
Dari sisi Kesehatan, ada beberapa komplikasi yang dapat memengaruhi kesehatan mata anak apabila mata juling ini didiamkan begitu saja.
1.Ancaman Amblyopia (mata malas)
2. Hilangnya persepsi kedalaman penglihatan pada mata anak.
Tentunya kedua kondisi ini akan memperburuk kemampuan penglihatan mata anak.
Mengenali Gejala Strabismus
Bila Mamas perhatikan, gejala awal mata juling pada anak bisa Mamas kenali jika ia kerap memiringkan kepala saat melihat sesuatu, mengalami penglihatan ganda, menyipitkan matanya saat melihat, kesulitan menangkap objek, hingga sering menabrak.
Walau begitu, tetap konsultasikan kembali dengan dokter spesialis mata untuk memastikan kondisi mata Si Kecil. Nantinya, dokter akan menyarankan Si Kecil untuk melalui pemeriksaan ketajaman penglihatan dan fungsi penglihatan binokular. “Bila ketidaksejajaran ini menetap setelah usia empat bulan, mata juling umumnya tidak dapat membaik dengan sendirinya dan dapat memengaruhi penglihatan tiga dimensi, persepsi jarak, serta meningkatkan risiko amblyopia anak,” ujar Wakil Ketua INAPOSS, DR. Dr. Lely Retno Wulandari, SpM(K), di sela-sela acara Konferensi Pers Pembukaan Pusat Operasi Mata Juling (Strabismus) RS Mata JEC Menteng, beberapa waktu lalu.

Penanganan Strabismus
Penanganan medis untuk mata juling ini sangat bervariasi ya, Mams. Tergantung pada penyebab, usia pasien, arah deviasi, dan apakah Si Kecil mengalami kondisi mata malas?
“Strabismus memiliki penyebab, pola, dan kebutuhan penanganan yang berbeda pada setiap pasien. Karena itu, diperlukan pemeriksaan yang lengkap, dukungan Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus, serta pilihan terapi yang sesuai dan berkesinambungan,” ucap Dr. Referano Agustiawan, SpM(K), Direktur Utama RS Mata JEC @ Menteng.
Dokter akan melakukan rangkaian evaluasi mendalam untuk menentukan penanganan selanjutnya. Dari evaluasi tersebut, dokter dapat menentukan apakah terapi non-bedah seperti penggunaan kacamata prisma atau patching (penutupan mata) sudah cukup untuk menangani kondisi mata anak, atau harus menjalani tindakan operasi otot mata menjadi langkah selanjutnya.
“Tindakan operasi tidak dibuat hanya untuk memperbaiki penampilan, tetapi lebih jauh untuk memperbaiki fungsi mata secara menyeluruh, sedapat mungkin dicapai penglihatan binokular tunggal,” jelas Ketua Layanan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC, Dr. Gusti G. Suardana, SpM(K).
Keberhasilan operasi ini tidak hanya dinilai dari perbaikan posisi bola mata saja, namun peningkatan koordinasi kedua mata, berkurangnya gejala penglihatan ganda, serta pulihnya kemampuan Si Kecil menjalani aktivitas, merupakan tujuan utama dari proses penyembuhan.
Peresmian Pusat Operasi Mata Juling RS Mata JEC Menteng
Bertepatan dengan World Strabismus Day (Hari Strabismus Sedunia) yang diperingati setiap 10 Agustus, RS Mata JEC @ Menteng meresmikan Pusat Operasi Mata Juling, layanan khusus untuk penanganan strabismus atau mata juling bagi pasien anak dan dewasa. Didukung Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC, layanan ini mencakup pemeriksaan diagnostik, koreksi kelainan refraksi, terapi ambliopia dan latihan penglihatan, hingga operasi otot mata berdasarkan diagnosis dan kebutuhan klinis pasien.
Selain menyediakan pilihan penanganan yang terintegrasi, pusat layanan ini membantu pasien dan keluarga memahami kondisi, tujuan terapi, serta pertimbangan medis sebelum menentukan tindakan. (Tammy Febriani/KR/Photo: Doc. Magnific)


